Cinta Beda Agama Part II

22:59

" Mau ke gereja ?" 
" Iya," 
" Mau ke masjid?" 
" Iya lebaran, nanti..." 

Kalimat demi kalimat yang membuat jantung berdesir dan seketika sebal pun datang. 
Kalimat demi kalimat yang ada dalam sebuah hubungan cinta beda agama. 
Percakapan demi percakapan tersebut kadang bikin 'menohok' karena sekali kita ngobrolin itu, pasti kita pengen banget beribadah bareng sama orang yang kita sayang. 
Tapi mana bisa coba kalau orang yang kita sayang itu gak bisa diajakin ke gereja atau ke masjid bareng? 

*tears*

Bukan bermaksud mengintimidasi salah satu golongan nih, seriusan tapi temen aku nanya. 
" Kenapa musti Islam sama Kristen gitu ya? Kok gak Islam sama Hindu, atau Budha," 

Ya mau gimana, 
orang yang mayoritas Islam dan kedua Kristen. Cinta lintas agama juga sering banget mampir di pemeluk kedua agama ini. 

Kuncinya sih ngalah, kalau gak ada yang ngalah ya gak bisa. 
Bukan mau ber-argumen.
Dulu sih diingetin,
"Ini mah cobaan dari Yang Kuasa buat ngeliat kamu sungguh-sungguh gak dalam ngejalanin kehidupan agamamu,"

Banyak tekanan di sana-sini yang bikin berurai airmata dan perih tak berujung (lay) dan memaksa diri untuk akhirnya mengalah. Bukan mengalah ke pasangan, tapi mengalah sama keadaan. 

Itu the most, the most dan the most... Keadaan tersedih yang pernah gue jalani.
Pada saat itu sih. 
Dan butuh waktu buat gue untuk berhenti sejenak, menyadarkan diri bahwa memang harus ada kehidupan lain untuk saya jalani dan kemudian saya bangkit. 

Tapi ketika tahu satu hal, 
bahwa banyak banget diluar sana yang juga punya pengalaman serupa.
Ada yang jadian hingga kakek nenek, ada juga yang memilih putus ditengah jalan. 

Share aja sih, 
ada pilihan demi pilihan yang bisa saja muncul saat kalian dewasa dan sudah tidak berada di usia yang masih 'dibawah ketiak orangtua'. And that's happen to me. Ketika aku sudah memilih menikah dengan orang lain, aku baru menyadari bahwa... 

Ada suatu masa dimana kalian bisa berhak menentukan jalan hidup kalian sendiri.
Menurut aku sih itu di usia sekitaran 25 tahun keatas. Disaat itulah, perjalanan cinta beda agama akan mengalami sedikit ombak yang lebih tenang. Karena pada saat itu kalian akan bebas memilih dan bertoleransi untuk memikirkan segalanya. 


Di usia tersebut, semuanya akan terasa lebih jelas.
Lebih damai dan legowo. 

Pada akhirnya akan membawa kalian kepada keputusan yang harus dihormati kedua belah pihak. 

Pilihanku? 
Pilihanku pada saat itu adalah meninggalkan dia disaat aku kuliah. Hubungan kandas tengah jalan karena aku yang memang kuliah butuh banget satu sosok yang bisa nemenin dan dekat. Parahnya cerita beda agamaku ini juga LDR antar pulau. 
Mana ngeliat kakak kelas juga pada cakep-cakep kan. Belum lagi dideketin sana-sini. Akhirnya sudahlah, diakhiri saja toh udah jauh ... beda agama lagi. 
Gimana nikahnya?
( Pertanyaan yang bener-bener bikin mau nonjok orang yang nanya!)

Pilihanku pada saat itu adalah, 
dekat dengan banyak orang dan menikah dengan orang lain.
Melupakan dia yang sudah banyak menitipkan airmata, tawa dan cinta kepadaku. 

Meski pada akhirnya aku sadar, seandainya saja pada saat itu aku lebih bersabar.
Seandainya pada saat itu aku tak arogan.
Tapi seandainya pada saat itu aku tak memilih keputusanku tersebut 

mungkin ceritanya pun tak akan seperti ini. 
  

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Like us on Facebook