Kalimat Perlu dan Kalimat tak Perlu (diucapkan)

19:33


Baru saja di bulan Ramadhan ini ada peristiwa yang sedikit menggelitik hati dan sanubari. 
Hehe,  


Sepertinya jika saya share disini tidak akan terlalu vulgar dibandingkan dengan saya share di media sosial saya yang lain. 
Kebetulan ini adalah opini, dan apabila ada kesamaan peristiwa mohon dimaafkan wkwk! 


Peristiwanya dimulai dari saya membaca salah satu grup di whatsapp. Ada kegiatan Bakti Sosial yang diprakarsai salah satu anggota grup. Kegiatan memang direspon banyak pihak, namun karena memang namanya grup ada pula yang tidak merespon. 
Yang cukup menarik perhatian saya, di akhir kalimat terdapat :

" Terima kasih bagi yang sudah merespon dan berpartisipasi dengan baik. Dan bagi yang tidak merespon sama sekali terima kasih sudah repot-repot menyempatkan diri untuk membaca postingan yang tidak begitu penting ini" 

*Ada bagian yang ganjil nggak?

Menurut pendapat pribadi saya (kebebasan berpendapat diperbolehkan)
ada kalimat yang seharusnya tidak perlu diucapkan. Cukup dihentikan pada bait : 

" Terima kasih bagi yang sudah merespon dan berpartisipasi dengan baik. Dan bagi yang tidak merespon sama sekali terima kasih sudah repot-repot menyempatkan diri untuk membaca postingan yang tidak begitu penting ini" 

Saya rasa, sudah cukup tertulis begitu saja. Tak perlu diungkapkan lebih menelisik lagi. Karena inilah, dititik ini lah kita tak pernah sadar dan paham apakah kalimat yang kita ucapkan akan berdampak terhadap 'ketersinggungan' di perasaan orang lain. 

Pada waktu itu, kontan saya mencoba share di grup yang lain dan menanyakan perihal kalimat tersebut. Dari beberapa grup yang saya share ( saya copy-paste dan bukan saya screenshot) walhasil banyak yang merasa tersinggung. 

Itu hanya merupakan testing saya, apakah memang saya sendiri yang merasa tersinggung ataukah kalimat provokatif begitu dapat menyinggung perasaan orang lain juga. 

Namun karena kondisinya berada di grup, dan notabene yang posting adalah salah satu 'petinggi' grup maka saya memilih untuk diam dan memutuskan untuk menjadi silent reader. Karena saya juga gak terlalu dekat dengan beliaunya. 
Kalaupun itu teman dekat saya, mungkin akan saya japri dan :
" Kayaknya kalimat yang terakhir diralat aja deh, soalnya kan kita nggak tahu juga bagaimana kondisi orang lain sehingga dia tidak merespon" 

Seriusan.
Kita nggak pernah tahu kondisi orang lain mengapa dia merespon atau bahkan mengapa ia tak merespon.
Bisa jadi karena memang sesama anggota grup tersebut sedang mengalami masalah internal,
bisa jadi karena dia memang sudah melakukan baksos di tempat lain sehingga tidak dapat bergabung di baksos yang ada. 

Segala kemungkinan itu ada. Dan kita mungkin gatahu karena memang itu privasi orang lain. Orang lain juga gak mungkin kan bilang ke kita :
" Eh maaf ya, aku gabisa ikutan baksos soalnya aku bla-bla-bla" 

Sama aja buka aib/rahasia/urusan dia pribadi ke orang banyak dong :)) 


Begitulah adanya sebuah kalimat.
Tanpa disadari terkadang kalimat terlontar tanpa terpikirkan dahulu.
Bagian kalimat pertama, memang santun didengar
Bagaimana dengan bagian kalimat kedua?
Bagusnya memang kalimat kedua kita telan sendiri. 

Kalimat kedua tak seharusnya berada disana.
Pernahkah kita mencoba menelaah kembali.
Manakah yang perlu dan tidak perlu?
Manakah yang menyakiti orang dan yang tidak. 
Mana yang harus terucap dan mana yang sama sekali lebih baik kita telan sendiri daripada orang lain harus mendengarnya. 
Pernahkah mencoba mencerna kembali bahwa kalimat yang kita kira sederhana nyatanya dapat memicu perselisihan, kesalahpahaman dan kebencian?

Manusia memang letak salah dan khilaf, manusia memang pendosa.
namun selayaknya manusia tetap belajar dan berproses setiap harinya.
Manusia juga tetap harus berlatih terus menerus tanpa henti.
Melatih bagaimana mengucapkan kalimat yang kiranya tidak menyakiti orang lain dan membuang kalimat yang sekiranya akan menyakiti orang lain dan menimbulkan percik-percik ketersinggungan. 

Mari belajar dan terus berlatih serta saling mengingatkan bahwa memang ada nyatanya kalimat- kalimat tak perlu tak perlu terucap tidak pada tempatnya. 

Semoga niatan perubahan ini membawa kita menjadi insan-insan dengan lisan yang terjaga di dunia dan akhirat. 

*Penulis juga pendosa tapi bukan plagiat.
Mohon maaf apabila ada salah kata, tingkah laku dan pemikiran yang tidak berkenan di masa lalu dan sekarang.
Mohon dimaafkan lahir dan batin. 


*Tulisan ini pernah dimuat di https: www.facebook.com/aikoasari.5 
Setelah tulisan ini di posting, banyak inbox dari anggota grup yang tersebut mengeluhkan hal yang sama. 

Best regards.

:) 




You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Like us on Facebook